#ClientRequest #FundamentalReview
Kinerja Keuangan
- BRIS mencatat laba bersih Rp1,9 triliun di 2Q25 (–1% QoQ, +10% YoY), sedikit di bawah ekspektasi. NIM naik signifikan ke 5,8% berkat yield kredit yang lebih tinggi 9,0%, namun kami nilai lebih bersifat one-off dari penyesuaian KPR, serupa induknya BMRI. CoF stabil di 2,8% QoQ meski masih 24 bps lebih tinggi YoY. Kenaikan opex ke Rp3,2 triliun (+6% QoQ, +24% YoY) membuat CIR melebar ke 50,1%.
Katalis & Prospek
- Kinerja jangka pendek didorong oleh ekspansi margin dari segmen pembiayaan konsumer, namun dampak one-off diperkirakan tidak berulang. Pertumbuhan kredit tetap terjaga dengan LDR 89,5% (naik tipis dari 89,0% di 1Q25), sementara dana pihak ketiga masih tumbuh terbatas. Ke depan, tekanan utama berasal dari tingginya opex dan provisi, sementara potensi katalis bergantung pada efisiensi biaya serta keberlanjutan pertumbuhan pembiayaan syariah.
Harga dan Pergerakan Asing
- Saham BRIS saat ini diperdagangkan di Rp2.590, terkoreksi 7% YTD. Selama sebulan terakhir, asing mencatatkan pembelian Rp328 miliar dan penjualan Rp355 miliar, sehingga membukukan net sell Rp27 miliar.
Valuasi dan Rekomendasi
- Dengan PBV 2,50x yang berada jauh di atas rata-rata industri 1,71x, valuasi BRIS dinilai premium. Target harga dipertahankan di Rp2.900 per saham sesuai estimasi fundamental. Dengan ruang upside yang terbatas serta katalis re-rating yang belum jelas, rekomendasi untuk saham ini adalah HOLD.
Disclaimer On – BRI Danareksa Sekuritas









